Rabu, 11 April 2012

Bahan Ajar Pembelajaran Tematik


BAB I
 PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
            Pelaksanaan model tematik bagi siswa SD/MI di kelas I – III  salah satunya berdasarkan pada kondisi psikologis siswa kelas I – III yang memandang segala sesuatu sebagai satu kesatuan yang utuh (holistik). Sangat sulit bagi mereka untuk memahami dan membedakan berbagai konsep. Air, sebagai contoh, dipandang sebagai zat yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bila guru menjelaskan air secara hakekat dan terpisah dengan konsep-konsep lain (seperti konsep air dalam ilmu kimia), siswa akan mengalami kesulitan memahaminya. Dalam pembelajaran lebih baik bila konsep air dikaitkan dengan konsep bersuci dalam mata pelajaran pendidikan agama Islam, konsep kebersihan dalam mata pelajaran IPA, konsep transportasi air dalam pelajaran IPS, bahkan dalam pelajaran kesenian pun guru dapat menyampaikan makna dan kegunaan air dalam suatu nyanyian/ lagu. Gerakan ombak air laut pun dapat diekspresikan siswa melalui gerakan ritmik mengikuti gerak tari untuk memperkuat otot lengan dan hasta dalam pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan.
            Fenomena banyak siswa yang tinggal kelas pada kelas I – III juga dijadikan dasar bagi pengambil kebijakan untuk melaksanakan pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik sangat membantu siswa yang tidak berasal dari pendidikan pra sekolah untuk mulai belajar di bangku formal. Pelajaran yang disajikan tanpa adanya pemilahan mata pelajaran menyebabkan siswa belajar tanpa sadar berbagai hal dalam satu kali pembelajaran. Hal ini sangat menguntungkan bagi siswa, yaitu belajar tanpa beban dan learning by playing. Bermain adalah kegiatan yang paling disukai oleh anak-anak.
            Pembelajaran tematik menekankan pada pemberian pengalaman langsung (direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkrit) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak (Depdiknas, 2006). Hal ini sesuai dengan karakteristik siswa usia SD/MI kelas I -III masih sangat tergantung pada respon indera, artinya apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan sangat mendominasi apa yang mereka pahami. Implikasi kepada pembelajaran di kelas adalah penggunaan metode dan bahan belajar yang mendukung kepada penerimaan sensorik pancaindera. Mereka sangat mudah melakukan duplikasi terhadap segala apa yang mereka lihat. Guru di kelas adalah role model yang sangat mempengaruhi perkembangan jiwa dan intelektual mereka di masa depan.
            Hal-hal di atas dijadikan dasar oleh Pemerintah untuk menerapkan pembelajaran tematik kepada siswa SD/MI kelas awal (kelas I – III). Diharapkan dengan pembelajaran yang sesuai keberhasilan pencapaian kompetensi yang tercantum dalam Standar Isi (Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006) lebih baik. Pembelajaran tematik telah menjadi kesepakatan bagi kita. Kita sebagai guru, berniat memulai langkah awal pendidikan siswa kita di kelas awal pendidikan dasar  dengan formula tematik. Usaha sungguh-sungguh akan membuahkan hasil yang sesuai dengan apa yang diusahakan. Semoga Allah Swt memudahkan usaha kita. Amin.
B.  Deskripsi Singkat
            Mata Diklat ini membahas tentang konsep dasar pembelajaran tematik dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran tematik.

C.    Tujuan Pembelajaran Umum
            Setelah mengikuti Mata Diklat ini diharapkan peserta mampu mendeskripsikan konsep dasar pembelajaran tematik dan mengimplementasikannya dalam pembelajaran di kelas.

D.                Tujuan Pembelajaran Khusus
            Setelah mengikuti Mata Diklat ini diharapkan peserta diklat dapat:
1.      menjelaskan konsep dasar pembelajaran tematik.
2.      menyusun perangkat pendukung pembelajaran tematik.
3.      menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran tematik.
4.      melaksanakan penilaian pembelajaran tematik.








BAB II
 KONSEP DASAR PEMBELAJARAN TEMATIK

A.    Pengertian Pembelajaran Tematik
            Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat  memberikan pengalaman bermakna kepada siswa (Depdiknas, 2006).  Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983). Dengan demikian pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang menetapkan satu tema sebagai pokok pikiran dalam membahas beberapa hal dari berbagai mata pelajaran yang secara konseptual dan empiris dapat dikaitkan. Guru tidak dapat memaksakan suatu konsep terkait dengan suatu tema karena akan mengaburkan makna konsep itu sendiri dan justeru membuat siswa menjadi bingung akan hakekat konsep itu sendiri.
            Manfaat penggunaan tema dalam pembelajaran bagi siswa,  antara lain:
1.      Memudahkan siswa memusatkan pikiran.
2.      Memudahkan siswa mempelajari berbagai kompetensi dasar berbagai mata pelajaran yang diikat dalam satu tema.
3.      Memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan berkesan.
4.      Mengembangkan kompetensi dasar dengan lebih baik karena mengaitkan mata pelajaran dengan pengalaman siswa sehari-hari.
5.      Memperoleh kebermaknaan belajar karena tema yang ditetapkan sangat dekat dan benar-benar dialami oleh siswa.
6.      Siswa lebih termotivasi untuk aktif dalam belajar berbagai hal sekaligus karena langsung langsung terlibat dalam situasi nyata.  
            Manfaat bagi guru adalah menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan,  waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.  Dengan demikian guru dapat lebih berkreativitas dalam mengelola pembelajaran agar`lebih sesuai dan memiliki daya efektivitas dan efisiensi tinggi.
           
B.     Landasan Pembelajaran Tematik
            Pembelajaran adalah suatu proses sehingga melibatkan aspek teori dan praktek. Kedua aspek saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan ibarat dua sisi mata uang. Teori memberikan arahan agar praktek pembelajaran dapat berlangsung dengan baik. Teori pendidikan dapat disusun dari berbagai pendekatan dapat bersumber dari filsafat, psikologi, atau dibuatkan dasar hukumnya (yuridis/idiologi). Demikian juga pembelajaran tematik dibangun atas ketiga landasan di atas.
1.            Landasan Filosofis
            Pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat, yaitu:  progresivisme,  konstruktivisme, dan humanisme.
a.      Aliran progresivisme
            Aliran ini memandang manusia sebagai makhluk yang bebas, aktif, dinamis, dan kreatif. Aliran progresivisme mengandung aspek rasionalitas yang ditunjukkan oleh eksistensi manusia (Imam, 1996 : 83). Pemahaman terhadap siswa dapat dilaksanakan dengan benar bila akal budi siswa dapat berfungsi dengan wajar. Pengembangan rasionalitas inilah yang membedakan dirinya dengan makhluk lain. Dengan demikian implikasi aliran progresivisme dalam pembelajaran adalah menerapkan pendekatan yang berpusat pada siswa, yaitu: menekankan pada sifat alamiah siswa sebagai manusia yang berbudi dan berakal melalui pengembangan kreativitas dalam suasana pembelajaran yang alamiah dengan memperhatikan kemampuan dan pengalaman siswa.
b.      Aliran konstruktivisme
            Konsep pengetahuan menurut aliran ini adalah sebagai hasil kontruksi (construct = membentuk) manusia. Pembentukan pengetahuan terjadi karena adanya interaksi dengan obyek , fenomena, pengalaman, dan lingkungannya. Dengan demikian pengetahuan siswa tidak terbentuk begitu saja harus diberikan fasilitas agar terbentuk dapat melalui penggunaan metode yang tepat mamupun media yang mendukung pembentukan pengetahuan itu sendiri. Implikasi dalam pembelajaran adalah setiap guru harus menyadari bahwa setiap siswa sebagai subyek pembelajaran yang telah bermuat pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya. Dengan demikian setiap guru harus mampu mengembangkan pengetahuan yang telah ada secara maksimal.
c.       Aliran humanisme
            Siswa adalah anak manusia yang unik dengan segala kelebihan. Setiap siswa, bagaimana pun mereka, memiliki potensi. Potensi yang tampak tidak dapat menggambarkan sepenuhnya kemampuan laten yang dimilikinya. Seorang siswa yang memperoleh hasil Ujian Semester mata pelajaran matematika  di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal tidak serta merta dicap sebagai siswa bodoh. Kemungkinan kemampuan numerikalnya agak kurang baik, namun guru yang bijaksana dapat menggali kemampuan lain, seperti: kemampuan musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, verbal, dan natural. Aliran humanisme ini berupaya memandang siswa adalah makhluk yang harus dihargai dan dikembangkan karena kelebihannya. Harapan-harapan siswa dalam pembelajaran juga harus dipenuhi. Implikasi dalam pembelajaran adalah guru melaksanakan tugas sebagai pelayan yang harus mau mengerti siswa. Guru menyediakan fasilitas pembelajaran yang mengembangkan siswa menjadi manusia yang berkehendak dan berpotensi.

2.            Landasan Psikologis
            Pembelajaran dilaksanakan berdasarkan teori-teori belajar yang berasal dari teori-teori psikologi dan terutama berhubungan dengan situasi belajar, termasuk pembelajaran tematik. Teori belajar ini meskipun bersifat teoretis namun telah teruji kebenarannya melalui eksperimen-eksperimen (Thornburg, 1984). Banyak ahli yang menekankan perlunya guru memahami teori belajar, antara lain Lindgren (1976) yang mengatakan:
a.       Teori belajar membantu guru memahami pembelajaran yang terjadi dalam diri siswa;
b.      Dengan kondisi ini guru dapat memahami berbagai kondisi dan faktor yang mempengaruhi, memperlancar, dan menghambat pembelajaran;
c.       Dengan teori belajar memungkinkan bagi guru melakukan prediksi yang cukup akurat tentang hasil yang diharapkan;
Dengan teori belajar dapat membantu guru meningkatkan penampilannya sebagai pengajar  yang efektif.
            Berikut ini teori-teori belajar yang mendasari formula pembelajaran tematik:
a.      Teori perkembangan Piaget
            Menurut Piaget perkembangan kognitif merupakan suatu proses mekanisme biologis yang dipengaruhi oleh perkembangan sistem syaraf. Travers dalam Toeti (1992) mengatakan bahwa ke-kompleks-an susunan syaraf berbanding lurus dengan bertambahnya  usia yang ditunjukkan dengan meningkatnya  kemampuan.  Dengan demikian, menurut Piaget, proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap-tahap perkembangan tertentu yang bersifat hierarkis sesuai dengan umurnya. Piaget membagi manusia menjadi empat tahap perkembangan kognitif, yaitu: jenjang sensorimotorik (0-2 tahun), jenjang pre  operasional (2-6 tahun), jenjang operasional konkrit (6-12 tahun), dan jenjang formal (12-18 tahun). Seorang yang telah berumur 18 tahun diharapkan telah mencapai jenjang kognitif formal sehingga mampu berpikir abstrak/ mengadakan penalaran.
            Implikasi teori kognitif Piaget ini terhadap pembelajaran tematik adalah penyediaan materi, fasilitas belajar dan metode pembelajaran yang sesuai dengan usia siswa kelas I – III. Khusus untuk materi yang terkait dengan tuntutan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar hendaknya memiliki tingkat kedalaman dan keluasan yang sesuai untuk siswa pada jenjang operasional konkrit. Berkaitan dengan fasilitas dan metode pembelajaran tematik sangat tepat dilaksanakan melalui permainan yang mengarah kepada pencapaian indikator-indikator yang telah ditetapkan.
b.      Teori penemuan Bruner
            Menurut Bruner pembelajaran yang baik adalah belajar melalui penemuan (discovery)  yang memungkinkan siswa memperoleh informasi  dan keterampilan baru berdasarkan informasi dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Teori Bruner berdasarkan empat prinsip utama, yaitu:
1)      Agar terjadi pembelajaran diperlukan adanya motivasi siswa. Peran guru dalam hal ini adalah membangkitkan motivasi belajar siswa.
2)      Diperlukan konseptualisasi pengaturan struktur bahan pelajaran agar mudah dipelajari siswa.
3)      Diperlukan pengurutan pengalaman belajar mulai dari yang konkrit ke abstrak.
4)      Diperlukan adanya pujian dan hukuman.
            Implikasi Teori Bruner ini  dalam pembelajaran di kelas adalah penggunaan metode pembelajaran yang dapat membangkitkan dorongan internal yangg berasal dari dorongan eksternal, penyiapan bahan / materi ajar yang sesuai namun tetap memperhatikan ketercapaian standar isi, kegiatan belajar yang sesuai dengan psikologi perkembangan siswa, dan kegiatan yang merangsang kompetisi sehat antar siswa dengan memberikan penilaian yang obyektif.


c.       Teori belajar bermakna Ausabel
            Ausabel menyatakan bahwa seharusnya materi yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sebelumnya (Toeti, 1992: 27).  Asimilasi terjadi bila seseorang menerima informasi atau pengalaman baru maka informasi tersebut akan dimodifikasi sehingga cocok dengan struktur kognitif yang telah dipunyainya. Dengan demikian, diperlukan dua persyaratan tercapai kebermaknaan dalam belajar, yaitu: materi yang secara potensial bermakna (dipilih dan diatur bersama guru – siswa sesuai dengan tingkat perkembangan dan pengalaman siswa) dan situasi belajar yang bermakna.
            Implikasi Teori Ausabel dalam pembelajaran tematik adalah penggunaan pendekatan kontekstual dengan memanfaatkan lingkungan sendiri sebagai lingkungan belajar dan pemilihan materi yang akrab dengan kehidupan sehari-hari agar motivasi belajar meningkat.
            Ringkasnya, teori belajar memberikan sumbangan pemikiran bahwa adanya retensi (ingatan yang tertinggal sebagai hasil belajar) yang lebih besar pada pembelajaran tematik daripada pembelajaran secara terpisah. Hasil-hasil penelitian mengenai retensi sebagai berikut:
5)      materi yang bermakna akan lebih  mudah diingat daripada materi yang tidak ada artinya bagi siswa.
6)      benda yang jelas dan konkrit akan lebih mudah diingat dibanding yang bersifat abstrak.
7)      Retensi akan lebih baik untuk materi yang kontekstual.
3. Landasan Yuridis
            Pemerintah telah membuat berbagai peraturan dan kebijakan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di SD/MI. Landasan yuridis tersebut adalah UU No. 23 Tahun 2002 Pasal 9 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa ”Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.”  dan UU No. 20 Tahun 2003 Bab V Pasal 1-b tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa ”Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.”

C.    Karakteristik Pembelajaran Tematik
            Depdiknas (2006) menyampaikan karakteristik-karakteristik pembelajaran tematik yang merupakan hasil kajian secara filosofis, psikologis, dan instruksional  sebagai berikut:
1.      Berpusat pada siswa
      Dalam pembelajaran tematik siswa yang aktif berbuat, guru hanya sebagai fasilitator yang memperlancar proses pembelajaran agar mengarah kepada tujuan pembelajaran. Semua kegiatan pembelajaran adalah kegiatan yang mendaya fungsikan siswa sebagai subyek belajar. Kelas adalah ajang pembelajaran bagi siswa untuk mengembangkan segala kemampuan dirinya. 


2.   Memberikan pengalaman langsung
      Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences). Siswa tidak sekedar memahami sesuatu tanpa melihat apa dan bagaimana sesuatu ada dan bekerja. Ini sangat sesuai dengan jenjang umur siswa yang berada dalam masa operasional konkrit. Bahkan dalam kegiatan penemuan, siswa melakukan dan menemukan sesuatu dengan sendirinya. Pengalaman langsung ini memberikan pengalaman yang menghasilkan belajar bermakna. Diharapkan dalam memberikan pengalaman langsung ini guru menggunakan media belajar yang menarik.
3. Pemisahan matapelajaran tidak begitu jelas
            Dalam pembelajaran tematik kita tidak mengenal kata ’Sekarang kita belajar matematika, belajar IPA, dan seterusnya. Kegiatan berlangsung seperti air mengalir, tanpa terasa siswa masuk pada konsep bilangan asli kurang dari 20 dengan menyanyikan lagu ”Balonku” atau menghitung anggota tubuh kita sambil menyenandungkan kalimah Alhamdulillaahirobbil’aalamiin, dan seterusnya. Dengan demikian pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.

4. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran
                                    Berbagai konsep dari berbagai mata pelajaran disajikan dalam satu atau beberapa kali pembelajaran. Dengan demikian, terjadi penyederhanaan konsep namun tetap utuh sesuai dengan usia siswa.
                        5. Bersifat fleksibel
            Guru diberi keleluasaan (fleksibelitas) untuk berkreativitas mengaitkan materi suatu mata pelajaran dengan materi mata pelajaran lain. Untuk membangkitkan motivasi, guru dapat mengaitkan dengan segala sesuatu yang akrab dengan siswa (kehidupan dan lingkungan sekitar mereka).  
6.Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa
            Pembelajaran tematik berusaha mengakomodasi minat, kebutuhan, dan potensi siswa agar berkembang maksimal. Pembelajaran dirancang sesuai dengan usia dan memberikan kesempatan kepada semua kecerdasan terpendam dapat terasah.
7.      Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan
            Bermain adalah suatu aktifitas yang dilakukan untuk memperoleh kesenangan, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Perkembangan jiwa anak sangat dipengaruhi oleh permainan yang mereka lakukan di usia dini. Pengaruh bermain bagi perkembangan anak:
a.       Mempengaruhi perkembangan fisik anak.
b.      Dapat digunakan sebagai terapi.
c.       Dapat mempengaruhi pengetahuan anak.
d.      Mempengaruhi perkembangan kreativitas anak.
e.       Mengembangkan tingkah laku sosial anak.
f.       Dapat mempengaruhi nilai moral anak.
            Banyak kegiatan yang dapat dikategorikan sebagai bermain. Secara garis besar terdapat  dua jenis permainan, yaitu:  permainan aktif dan permainan pasif. Permainan aktif contohnya adalah:  bermain bebas dan spontan, drama, bermain musik, mengumpulkan dan mengoleksi sesuatu, dan permainan olahraga. Sedangkan contoh permainan pasif adalah membaca, mendengar radio, dan menonton televisi.
            Mengingat pentingnya bermain bagi siswa usia kelas I – III SD/MI maka guru jangan mengabaikan perlunya permainan sebagai sarana penghantar kepada pencapaian tujuan dengan cara yang menyenangkan.
            Selain itu terdapat rambu-rambu  yang harus diperhatikan bagi guru yang melaksanakan pembelajaran tematik, yaitu: 
1.      tidak semua mata pelajaran harus dipadukan;
2.      dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi dasar lintas semester;
3.      kompetensi dasar yang tidak dapat dipadukan, jangan dipaksakan untuk dipadukan. Kompetensi dasar yang tidak diintegrasikan dibelajarkan secara tersendiri;
4.      kompetensi dasar yang tidak tercakup pada tema tertentu harus tetap diajarkan baik melalui tema lain maupun disajikan secara tersendiri;
5.      kegiatan pembelajaran ditekankan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung serta penanaman nilai-nilai moral; dan
6.      tema-tema yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik siswa, minat, lingkungan, dan daerah setempat  (Depdiknas, 2006)




BAB III
 PENYUSUNAN PERANGKAT PENDUKUNG PEMBELAJARAN TEMATIK

A. Penetapan Tema
            Dalam memilih atau menetapkan tema-tema yang ada dalam 1 semester guru dapat melakukan dengan cara:
1.      mempelajari SK dan KD dalam tiap pelajaran untuk menentukan tema yang sesuai.
2.    menetapkan tema-tema terlebih dahulu. Guru dapat bekerjasama dengan siswa sehingga sesuai dengan karakteristik hal-hal yang telah dikenal siswa atau sesuai dengan minat-kebutuhan siswa.
3.    melakukan judgment bahwa siswa mengenal objek mulai dari lingkungan terdekat hingga terjauh, mulai dari yang nyata ke konkrit, mudah ke sulit,dan mulai dari sederhana ke kompleks.  


B. Pemetaan Kompetensi Dasar (KD) (terlampir)
            Yang kita perhatikan adalah seluruh KD yang terdapat pada seluruh Standar Kompetensi (SK)  yang sesuai dengan tema yang dipilih. Kegiatan yang dilakukan adalah:
1.      Menjabarkan Standar Kompetensi (SK)  dan Kompetensi Dasar (KD) ke dalam indikator-indikator (sesuai karakteristik mapel, siswa, dan operasional)
2.      Identifikasi dan analisis SK, KD, dan Indikator
Lakukan  identifikasi dan analisis untuk setiap SK, KD, dan indikator yang cocok untuk setiap tema        sehingga semua SK, KD, dan  dan indikator    terbagi habis.

C. Pengembangan Jaringan Tema (terlampir)
Jaringan tema berupa hubungan antara KD dan indikator dengan tema. Jaringan tema ini dapat dikembangkan sesuai dengan alokasi waktu setiap  tema. 

D. Pengembangan Silabus
Membuat silabus dengan sistematika:  standar kompetensi - kompetensi dasar – indikator – materi pokok – kegiatan pembelajaran – penilaian – waktu – sumber bahan/ alat.

E.     Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
      Komponen rencana pembelajaran tematik meliputi:
1.      Identitas mata pelajaran (nama mata pelajaran yang akan dipadukan, kelas, semester, dan waktu/banyaknya jam pertemuan yang dialokasikan).
2.      Kompetensi dasar dan indikator yang akan dilaksanakan.
3.      Materi pokok beserta uraiannya yang perlu dipelajari siswa dalam rangka mencapai kompetensi dasar dan indikator.
4.      Strategi pembelajaran (kegiatan pembelajaran secara konkret yang harus dilakukan siswa dalam berinteraksi dengan materi pembelajaran dan sumber belajar untuk menguasai kompetensi dasar dan indikator, kegiatan ini tertuang dalam kegiatan pembukaan, inti dan penutup).
5.      Alat dan media yang digunakan untuk memperlancar pencapaian kompetensi dasar, serta sumber bahan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran tematik sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai.
6.      Penilaian dan tindak lanjut (prosedur dan instrumen yang akan digunakan untuk menilai pencapaian belajar siswa serta tindak lanjut hasil penilaian).

F. Pengaturan Jadwal pelajaran
            Untuk memudahkan administrasi sekolah terutama dalam penjadwalan, wali kelas bersama dengan guru mata pelajaran  pendidikan agama, guru pendidikan Jasmani dan guru muatan lokal perlu bersama-sama menyusun jadual pelajaran.  Contoh jadwal yang dapat dikembangkan adalah:

Waktu
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
7-7.35
Mat

B. Indo
Mat
BI
Penjaskes
IPA
7.35-8.10
Mat

B. Indo
Mat
BI
penjaskes
IPA
8.10-8.45
Mat

B. Indo
Mat
KTK
P. Agama
mulok
8.45-9.00

Istirahat

9.00-9.35
B. Ind
Mat

IPS
KTK
P. Agama
mulok
9.35-10.10
B. Ind
Mat

IPS
KTK








BAB IV
 PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TEMATIK

            Pelaksanaan pembelajaran tematik setiap hari dilakukan dengan menggunakan tiga tahapan kegiatan yaitu kegiatan pembukaan/awal/pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
A.    Kegiatan Pendahuluan/awal/pembukaan
Kegiatan ini dilakukan terutama untuk menciptakan suasana awal pembelajaran untuk mendorong siswa menfokuskan dirinya agar mampu mengikuti proses pembelajaran dengan baik.
            Sifat dari kegiatan pembukaan adalah kegiatan untuk pemanasan. Pada tahap ini dapat dilakukan penggalian terhadap pengalaman anak tentang tema yang akan disajikan. Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah bercerita, kegiatan fisik/jasmani, dan menyanyi

B.     Kegiatan Inti
Dalam kegiatan inti difokuskan pada kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk pengembangan kemampuan baca, tulis dan hitung. Penyajian bahan pembelajaran dilakukan dengan menggunakan berbagai  strategi/metode yang bervariasi dan dapat dilakukan secara klasikal, kelompok kecil, ataupun perorangan.



C.     Kegiatan Penutup/ Akhir dan Tindak Lanjut
            Sifat dari kegiatan penutup adalah untuk menenangkan kelas. Beberapa contoh kegiatan akhir/penutup yang dapat dilakukan adalah menyimpulkan/mengungkapkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan, mendongeng, membacakan cerita dari buku, pantomim, pesan-pesan moral, musik/apresiasi musik.
      Berikut ini adalah contoh pelaksanaan pembelajaran tematik:

Tahap
Lama waktu
Fokus
Kegiatan yang mungkin
Metode
Pembuka
1 x 35 menit
Menciptakan suasana awal pembelajaran yang kondusif.
Penggalian pengetahuan awal siswa
Menyanyi
Kegiatan fisik
Bercerita

Klasikal dan individu
Inti
3 x 35 menit
Kemampuan CALISTUNG
Belajar sambil bermain
Metode bervariasi  klasikal maupun kelompok
Penutup
1 x 35 menit
Untuk menenangkan kelas.
menyimpulkan/mengungkapkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan,
mendongeng,
membacakan cerita dari buku,
pantomim,
pesan-pesan moral, musik/apresiasi musik.

Klasikal



BAB V
PENILAIAN PEMBELAJARAN TEMATIK
A.    Pengertian Penilaian
     Penilaian (evaluation) sangat erat dengan pengukuran (measurement). Penilaian dilakukan setelah kegiatan pengukuran.  Ratna (1988: 5) berpendapat bahwa pengukuran adalah prosedur pemberian angka atau nilai pada diri seseorang yang berkaitan dengan ciri-ciri yang diukur. Mehrens (1973: 6) mengutip pendapat Cronbach yang mendefinisikan pengukuran sebagai prosedur yang sistematis untuk mengamati perilaku seseorang dan menggambarkannya dengan bantuan skala numerik atau sistem pengkategorian. Dengan demikian, pengukuran merupakan kegiatan yang menggambarkan atribut  atau sifat-sifat objek yang diukur dengan mengumpulkan data secara kuantitatif dengan menggunakan alat ukur yang sesuai. Pengukuran dalam bidang pendidikan mencakup bidang kognitif melalui pemberian tes, bidang afektif melalui kuesioner, wawancara, dan bidang psikomotorik melalui perbuatan dan pengamatan.  Selanjutnya dilakukan penilaian yang bertujuan mengambil keputusan baik dan buruk.
            Penilaian merupakan kegiatan evaluasi yang harus dilakukan oleh setiap guru dalam pembelajaran. Betapa pun baiknya perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, namun tidak menggunakan penilaian yang sesuai dan seharusnya maka segalanya tidak bermakna. Penilaian dapat digunakan oleh berbagai pihak untuk dijadikan sebagai bahan refleksi dan dasar dalam pengambilan berbagai kebijakan. Manfaat penilaian bagi siswa sangat besar karena hasil penilaian dapat dijadikan dasar penguasaannya terhadap suatu kompetensi yang telah ditetapkan. Bahkan hasil penilaian merupakan penentu nasib apakah ia naik/ tidak naik kelas, dan lain-lain. Apa yang terjadi bila seorang guru tidak mampu melakukan penilaian? Agar guru tidak melakukan kedholim-an, guru wajib menguasai tekhnik penilaian yang benar.  Hal ini sesuai dengan firman Allah sebagai berikut:
(#qèù÷rr&ur Ÿ@øs3ø9$# #sŒÎ) ÷Läêù=Ï. (#qçRÎur Ĩ$sÜó¡É)ø9$$Î/ ËLìÉ)tFó¡ßJø9$# 4 y7Ï9ºsŒ ׎öyz ß`|¡ômr&ur WxƒÍrù's? ÇÌÎÈ  
Artinya: “Sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.” (Al-Qur’an Surah Al-Israa’: 35)

B.     Penilaian dalam Pembelajaran Tematik
            Penilaian dalam pembelajaran tematik adalah suatu usaha untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai oleh anak didik melalui program kegiatan belajar (Depdiknas, 2006). Berdasarkan pengertian di atas, penilaian dalam pembelajaran tematik adalah sama dengan penilaian pembelajaran secara umum. Kegiatan penilaian yang berlangsung meliputi aspek proses dan hasil yang pelaksanaannya terus menerus agar setiap perubahan yang terjadi dapat teramati dan terukur dengan cermat.
            Hasil penilaian yang digunakan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa (kognitif, psikomotorik, dan afektif) melalui indikator-indikator yang telah ditetapkan, sebagai dasar pengambilan berbagai keputusan yang terkait dengan siswa (remedial, pengayaan, dan pemantapan), dan bagi guru dapat dijadikan sebagai bahan feedback yang sangat membantu bagi perbaikan pembelajaran di masa yang akan datang.

C.    Prinsip Penilaian pada Pembelajaran Tematik
1. Penilaian siswa kelas 1 tidak ditekankan pada penilaian secara tertulis, karena siswa SD/ MI kelas belum lancar membaca dan menulis.
2.   Kemampuan  membaca, menulis dan  berhitung  merupakan kemampuan yang harus dikuasai oleh peserta didik kelas 1 dan 2. Oleh karena itu, penguasaan terhadap ke tiga kemampuan tersebut adalah prasyarat untuk kenaikan kelas.
3.   Penilaian tetap mengacu pada indikator dari masing-masing kompetensi dasar dari tiap mata pelajaran.
4.   Penilaian dilakukan di semua tahap kegiatan pembelajaran (pembukaan, kegiatan inti, dan penutup). Contohnya:  ketika siswa bercerita mengenai penyembelihan hewan qurban di desanya, membaca kisah Nabi Ibrahim AS & Nabi Ismail AS, dan menyanyi Lagu Qurban guru melakukan penilaian.
5.   Semua hasil pekerjaan siswa, seperti: kebenaran menulis, penggunaan tanda baca, keindahan tulisan, menggambar, kebersihan menulis huruf/ angka, dan lain-lain digunakan sebagai pertimbangan dalam memberikan hasil penilaian.


D.  Tekhnik Penilaian
            Tekhnik penilaian dalam pembelajaran tematik dapat berbentuk tes dan non tes. Tekhnik tes digunakan untuk menilai kemampuan siswa yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Bentuk tes yang sering digunakan adalah tes tertulis yang digunakan untuk menilai kemampuan menulis siswa, khususnya untuk mengetahui  tentang penggunaan tanda baca, ejaan, kata atau angka. Bentuk tes tertulis yang lain (tes esai, tes pilihan ganda, melengkapi, dan menjodohkan) diberikan bila guru memandang siswa siap menerima. Tes lisan, tes perbuatan, dan portofolio dapat dilakukan disesuaikan dengan keadaan siswa dan karakteristik materi.  Tekhnik non tes untuk menilai sikap, minat, dan kepribadian siswa. Untuk keperluan mendapatkan informasi ini antara lain digunakan wawancara, angket, observasi, dan catatan harian perkembangan siswa. Dalam kegiatan pembelajaran di kelas awal penilaian yang lebih banyak digunakan adalah melalui pemberian tugas dan portofolio. Guru menilai anak melalui pengamatan yang lalu dicatat pada sebuah buku bantu.
            Di bawah ini adalah contoh penilaian yang dapat dilakukan guru dalam pembelajaran tematik:
Mata Pelajaran
Penilaian
Pendidikan Agama
Berperilaku hidup bersih
Bahasa Indonesia
Perbuatan:
Intonasi dan kelancaran deklamasi
Ilmu Pengetahuan Alam
Perbuatan :Melakukan gosok gigi
Lisan: Menjelaskan manfaat gosok gigi
Matematika
Menghitung banyaknya jumlah gerakan naik turun menyikat gigi
Seni Budaya dan Keterampilan
Melafalkan lagu anak-anak ”Gosok Gigi”

E. Aspek Penilaian
                        Penilaian pada pembelajaran tematik dilakukan sesuai dengan jumlah mata pelajaran yang dipadukan. Bila terdapat 4 mata pelajaran yang dipadukan berarti guru memiliki 4 hasil penilaian. Masing-masing hasil penilaian tersebut berasal dari pencapaian kompetensi dasar melalui indikator-indikator masing-masing mata pelajaran.
BAB VI
KESIMPULAN
            Pembelajaran tematik sangat sesuai diberikan kepada siswa SD/MI kelas I – III secara filosofis, psikologis, dan yuridis. Agar pelaksanaan pembelajaran tematik di lapangan berhasil maka  setiap guru harus melakukan serangkaian persiapan pembelajaran dengan memahami hakekat pembelajaran tematik dengan benar.
            Guru hendaknya menyusun perangkat pembelajaran tematik, berupa: Penetapan Tema, Pemetaan KD, Pengembangan Jaringan Tema, Pengembangan Silabus, dan Penyusunan RPP.
            Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran tematik meliputi 3 kegiatan pokok, yaitu: Kegiatan Pendahuluan, Kegiatan Inti, dan Kegiatan Penutup.           

Daftar Pustaka:
Cronbach, L.E. Essentials of Psychological Testing, New York, Harper and Row, 1990.

Budiyanto, Binarupa Aksara. Jakarta: 1994.
Depdiknas, Model Tematik Kelas Awal (Baru) SD/MI, Jakarta : 2006.
Imam, Barnadib dan Sutari, Imam Barnadib., Beberapa Aspek Substansial Ilmu     Pendidikan, Penerbit Andi, Yogyakarta, 1996.

Lindgren, H.C. Educational Psychology in the Classroom, 5th ed, John Wiley &    Sons, Inc., New York, 1976.

Ngalim Purwanto, Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Penerbit PT    Remaja Rosdakarya, Bandung, 1984.

Safari, Penulisan Butir Soal Berdasarkan Penilaian Berbasis Kompetensi,   Asosiasi           Pengawas Sekolah Indonesia Departemen Pendidikan     Nasional, Jakarta, 2005.

Thornburg, H.D., Learning Theory, Instructional Psychology, West Publ. Co, St     Paul, 1984.

Suyanto dan Hisyam D. Refleksi dan Reformasi: Pendidikan di Indonesia   Memasuki Milenium III. Adicita. Yogyakarta: 2000.

Toeti Soekamto., Teori Belajar, Teori Instruksional, dan Faktor-faktor yang            Mempengaruhi Proses belajar, Dirjen Dikti, Jakarta, 1992.

Zohar, D. & Marshall, I. Spiritual Quotient. The Ultimate Intelligence. London:      2000.
                         

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

"Kesalahan adalah pengalaman hidup, belajarlah darinya. Jangan mencoba tuk menjadi sempurna. Cobalah belajar bijaksana bagi sesama"