Minggu, 20 Mei 2012

Karakterisik Bimbingan Konseling Terhadap Anak SD


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Keunikan kepribadian seorang anak membuat kita sebagai orang dewasa harus benar-benar paham akan bagaimana cara untuk memahami seorang anak. Setiap anak berbeda baik dari segi kemampuan hingga kelemahan yang dimilikinya dan hal itu merupakan potensi yang harus dikembangkan untuk menjadi bekal hidupnya kelak. Berhubungan dengan anak sebagai pribadi yang unik, maka setiap pribadi pasti memiliki masalah, tidak terkecuali seorang anak.  Masalah-masalah tersebut adalah yang berhubungan dengan aspek belajar, sosial, maupun dirinya sendiri, baik di lingkungan keluarga dimana ia tumbuh dan berkembang maupun di lingkungan sekolah yang merupakan instansi ke dua bagi anak untuk menghabiskan waktunya sehari-hari.
Anak sebagai peserta didik merupakan pribadi-pribadi yang unik, sebagai individu yang dinamis dan berada dalam proses perkembangan mempunyai berbagai macam kebutuhan dan dinamika dalam interaksinya dengan lingkungan sekitar. Pada diri anak senantiasa terjadi adanya perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar. Hal tersebut merupakan aspek-aspek psikologis dalam pendidikan yang bersumber dari dalam diri anak sehingga menuntut adanya pendekatan psikologis untuk memfasilitasi perkembangan anak  tersebut.
Oleh karena itu, bimbingan konseling memiliki andil yang sangat besar dalam membantu setiap peserta didik agar dapat mandiri dan dapat berkembang secara optimal, dan dalam hal permasalahan dalam belajar siswa, bimbingan konseling turut berperan dalam membantu proses dan pencapaian tujuan pendidikan. Namun, masih sangat dirasakan bahwa memberikan layanan bimbingan dan konseling untuk anak agak sulit. Disamping melihat dari segi kematangannya, konselor juga harus ingat bahwa anak memiliki karakteristik khusus maka dalam pemberian layanan pun harus disesuaikan.
Bimbingan dan konseling kelompok, merupakan wahana efektif yang bisa menjadi pilihan konselor untuk memberi layanan bimbingan konseling pada anak. Anak-anak sering berinteraksi dengan lingkungan, dan anak-anak juga biasanya menghabiskan banyak waktu dengan saling berinteraksi dalam kelompok, maka diperlukan pengaturan ideal untuk menempatkan bimbingan sebagai media informasi atau bisa juga pencegahan dan konseling sebagai peran kuratifnya agar anak dapat berinteraksi dengan baik . (Campbell, 1993; Gumaer, 1984)dan menyesuaikan diri dengan baik pula dalam rangka menguasai tugas perkembangannya. Hal-Hal paling mendasar yang mendasari prinsip berhadapan dengan anak-anak dalam kelompok adalah pada lingkungan alami masa kanak-kanak dan penyesuaian terhadap karakteristik dan masalah anak.
Di Sekolah Dasar dan Sekolah menengah (di mana kebanyakan anak-anak usianya di bawah 14 tahun), bimbingan kelompok digunakan untuk membantu anak-anak tidak hanya mempelajari keterampilan baru tetapi juga memiliki kesadaran akan nilai-nilai, prioritas, dan masyarakat. Kelompok kecil memberi anak untuk " menyelidiki dan membahas lingkungan sosial dan tantangan emosional dengan orang lain yang sedang mengalami perasaan yang sama" (Campbell& Bowman, 1993, p. 1;3). Sebagai Contoh, konseling kelompok diberikan kepada anak-anak yang mempunyai life-event khusus yang berhubungan seperti kerugian dari orangtua akibat perceraian (Gwynn dan Brantley, 1987; Yaumann, 1991) atau tidak berhasil dalam nilai/kelas (Boutwell& Myrick, 1992). Konseling kelompok juga untuk anak-anak yang mempunyai permasalahan perilaku " seperti perkelahian yang berlebihan, ketidak-mampuan untuk bergaul akrab, ledakan yang kejam, kelelahan yang kronis, ketiadaan pengawasan di rumah, dan melalaikan penampilan" (Corey, 1990, p. 9).
Dalam pelaksanaannya bimbingan konseling kelompok anak memang memerlukan keterampilan khusus, namun, yang lebih sering digunakan dan populer adalah menggunakan konseling bermain, brain gym, atau teknik exercise-exercise ringan. Movement exercise menjadi pilihan penulis untuk memberikan bimbingan dan konseling kelompok pada anak, mengingat karakteristik anak yang aktif dan banyak bergerak, maka movement exercise ini dimungkinkan agar anak menikmati dan berperan aktif dalam proses bimbingan dan konseling kelompok ini.
B.     Tujuan Kegiatan
Tujuan dari praktik movement exercise pada anak Sekolah Dasar ini, antara lain :
1.      Mengetahui proses pelaksanaan dari movement exercise sebagai salah satu teknik dalam bimbingan konseling kelompok
2.      Mengetahui tingkat keterlibatan anak dalam bimbingan konseling kelompok yang menggunakan teknik movement exercise
3.      Mengetahui tingkat keberhasilan bimbingan dan konseling kelompok yang menggunakan movement exercise dalam mencapai tujuan bimbingan konseling yang ingin dicapai, yaitu untuk saling menghargai teman, memahami dan mengetahui kelemahan dan kelebihan diri.
Mengetahui kecocokan teknik movement exercise dalam bimbingan konseling kelompok anak di SD
C.    Sasaran Praktikum
Adapun sasaran dari penggunaan teknik movement exercise dalam bimbingan konseling kelompok adalah siswa-siswa dari kelas tinggi :3, 4, dan 5 Sekolah Dasar.
D.    Sistematika Penulisan Laporan
Penyusunan Laporan ini disajikan dalam 4 (empat) bab yang terdiri dari :
1.    Bab I Pendahuluan. (Latar Belakang, Tujuan Kegiatan, Sasaran Kegiatan, serta Sistematika Penulisan Laporan)
2.    Bab II Landasan Teoritis
3.    Bab III Deskripsi Kegiatan
4.    Bab IV Kesimpulan





















BAB II
LANDASAN TEORITIS
Konseling Kelompok Anak Dengan Teknik Movement Exercise

A.    Definisi Anak
Permulaan masa anak-anak sering ditandai dengan masuknya anak ke sekolah (SD kelas 1). Pada masa ini anak mulai keluar dari lingkungan pertamanya yaitu keluarga, dan mulai memasuki lingkungan sekolah. Hurlock (1980, 149-166) menyatakan bahwa ada tiga ciri utama pada masa ini (masa sekolah) yang mampu menunjukan perbedaan dengan masa sebelumnya (prasekolah), antara lain:
1.      Dorongan anak untuk masuk ke dalam dunia permainan dan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan otot-otot.
2.      Dorongan anak untuk keluar dari lingkungan rumah dan masuk ke dalam kelompok teman sebaya (peer group).
3.      Dorongan mental untuk mematuhi dunia konsep-konsep logika, simbol, dan komunikasi secara dewasa.
Sebutan anak dalam dimensi perkembangan diberikan kepada individu yang berusia 1 sampai dengan 11 tahun. Hurlock memberikan sebutan anak terbagi dalam dua kelompok yaitu kanak-kanak dan anak. Kanak-kanak adalah individu dalam rentang usia 1-5 tahun dan anak adalah individu pada rentang 5-11 tahun. Sebutan lain yang digunakan oleh Bredekamp adalah anak usia dini bagi individu berusia 4 sampai 8 tahun dan anak untu yang berusia 8 hingga 11 tahun. Sebutan lain yang digunakan oleh Bredekamp adalah anak usia dini bagi individu dibawah 18 tahun, sehingga di dalamnya termasuk bayi, anak dan remaja awal.
Pada konteks kelompok dan konseling kelompok menurut Yalom, anak adalah kelompok individu di bawah 14 tahun, atau individu pada pendidikan Sekolah Dasar dan sekolah lanjutan pertama. Gadza secara spesifik membagi kelompok anak dalam kelompok Taman Kanak-kanak dan kelas rendah Sekolah Dasar, yaitu individu berusia 5 hingga 9 tahun atau anak-anak dalam usia dini serta kelompok pra-remaja atau remaja awal, yaitu individu yang berusia 9 hingga 13 tahun. Konseling kelompok dapat dilakukan pada anak nusia 3 hingga 4 tahun atau anak yang sudah mencapai kematangan dalam bersosialisasi.
Selain kematangan dalam bersosialisasi ada beberapa tugas perkembangan yang harus dikuasai oleh anak usia sekolah dasar, dan terpenuhinya tugas-tugas perkembangan itu akan membuat anak dapat bertindak wajar sesuai dengan tingkat usianya. Adapun tugas perkembangan anak usia sekolah dasar menurut Havighurts adalah :
1)        Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan.
2)        Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis.
3)        Belajar bergaul  dan meyesuaikan diri dengan teman sebaya.
4)        Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya.
5)        Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung.
6)        Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari-hari.
7)        Mengembangkan kata hati.
8)        Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi.
9)        Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial.

B.     Karakteristik Bimbingan di Sekolah Dasar
            Pemerintah secara formal telah memberikan dasar acuan pelaksanaan bimbingan dan konselilng di sekolah dasar dengan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990, sbagai kelanjutan dan penyempurnaan aturan-aturan yang sebelumnya , sepeti kurikulum 1975 buku IIIC dan Pedoman Pelaksaan Bimbingan di Sekolah Dasar Tahun 1987. Hal ini dilakukan karena pelaksaan bimbingan disekolah dasar pada kenyataannya berbeda dengan pelaksaan pada sekolah menengah,baik SLTP maupun SMU terutama yang berkaitan dengan fingsi guru sebagai pembimbing.
            Beberapa factor penting yang membedakan bimbingan konseling disekolah dasar dengan skolah menengah, dikemukakan oleh Dinkmeyer dan Caldwell (Suherman AS, 200:21-23) yaitu:
1)      Bimbingan di sekolah dasar lebih menekankan akan peranan guru dalam fungsi bimbingan;
2)      Fokus bimbingan di sekolah dasar lebih menekan pada pengembangan pemahaman diri, pemecahan masalah, dankemampuan hubungan secara efektif dengan orang lain;
3)      Bimbingandi sekolahdasar lebih banyak melibatkan orang tua murid, mengingat pentingnya pengaruh orang tua dalam kehidupan anak selama di sekolahdasar;
4)      Bimbingan di sekolah dasar hendaknya memahami kehidupan anak secara unik;
5)      Program Bimbingan di sekolah dasar hendaknya peduli pada kabutuhan dasar anak, seperti kebutuhan untuk matang dalam pemahaman dan penerimaan diri, serta menerima kelebihan dan kekurangannya.
Program bimbingan di sekolah dasar meyakini bahwa usia sekolah dasar merupakan tahapan yang sangat penting  dalam tahapan perkembangan anak.
            Melihat karakteristik bimbingan konseling di sekolah dasar muncul sebagai konsekuensi logis dari karakteristik dan masalah perkembangan murid sekolah dasar itu sendiri. Karena itu, memahami karakteristik di sekolah dasar itu sendiri. Karena itu, memahami karakteristik murid sekolah dasar merupakan hal yang sangat penting dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas dan layanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan. Begitu pula sentral layanan bimbingan dan konseling akan terpusat pada pemberdayaan kualitas fungsi guru sebagai pembimbingnya.

C.    Karakteristik Anak Berbakat

Sebagai makhluk social, anak berbakat mengalami pertunbuhan dan perkembangan yang sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat, pemikiran , sikap dan aktivitas. Ditinjau dari segi budaya anak berbakat mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang dipengaruhi tingkat kebudayaan yang mereka dalam  memperoleh pengalaman budaya.

Untuk mengenali karakteristik anak berbakat dapat dilihat dari beberapa segi, diantaranya :
a.       Potensi
b.      Cara mengahadapi masalah
c.       Prestasi
Selain karakteristik anak berbakat juga dapat dilihat dari tanda-tanda umum dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Anak berbakat cenderung memiliki bakat istimewa yang sering kali memiliki tahap perkembangan yang tidak serentak, karena ia dapat hidup dalam berbagai usia perkembangan, misalnya anak usia 4 tahun dapat bemain dengan anak seusianya tetapi dalam kegiatan akademis seperti anak usia yang jauh dari usia sebenarnya. Mengapa hal ini terjadi?, hal ini terjadi karena anak berbakat cenderung mempuyai cara pemikiran yang berbeda dari teman-teman seusianya
D.    Kerja Kelompok Dengan Sasaran Anak-Anak
Penanganan kelompok anak memerlukan pengetahuan khusus tentang perkembangan manusia khususnya anak dan teori kelompok (dinamika kelompok dan proses kelompok). Pemimpin kelompok dituntut mampu beradaptasi dengan tingkatan social, emosional, fisikal dan intelektual anak serta memiliki kemampuan menggunakan teknik verbal maupun non verbal.
Kelompok anak berfungsi mempromosikan kesiapan dan kemampuan anak untuk belajar, keterampilan – keterampilan khusus/ baru, keterampilan hidup dan mengoreksi kondisi-kondisi yang tidak sehat, pengembangan sumber data atau  potensi anak, mengembangaan kesadaran akan nilai, prioritas dan lingkungan ; mengeksplorasi dan menghadapi  tantangan sosial dan emosional serta memperoleh pengalaman mengelola perasaan, bantuan terhadap permasalahan perilaku, kehidupan yang sehat serta pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Kelompok anak disebut sebagai bimbingan kelompok atau pendidikan-psikologis, konseling dan psikoterapi kelompok. Kelompok anak dilakukan dalam adegan sekolah dan di luar sekolah.
Tipe kelompok anak tergantung pada faktor perkembangan dan bukan perkembangan (Yussi,2003). Kelompok anak dibedakan atas tiga tipe. Pertama, kelompok yang dibentuk khusus untuk  pemberian informasi. Pemimpin kelompok berfungsi sebagi  guru dan bekerja sama secara langsung dengan guru . Tipe ini efektif untuk membantu anak mempelajari perilaku yang tidak tepat , mempelajari cara baru yang lebih mudah untuk berinteraksi dan memperoleh timbal balik yang aman serta situasi praktis. Teknik yang digunakan adalah diskusi dan bermain peran. Tipe ini lebih bersifat bimbingan kelompok dan pendidikan – psikologis.
Tipe kelompok yang kedua adalah kelompok yang dibentuk dalam rangka peningkatan keterampilan dan kesadaran dalam lingkup personal dan interpersonal termasuk didalamnya nilai, sikap, keyakinan, kematangan social dan perkembangan karir. Tipe ini bersifat remediatif yang berhubungan dengan konsep diri, keterampilan komunikasi, hubungan interpersonal, pemecahan masalah, keterampilan akademik, keterampilan komunikasi dan pengembangan nilai. Tipe ini bersifat konseling kelompok dan psikoterapi. Tipe yang ketiga merupakan aktifitas gabungan dua tipe sebelumnya, yakni dengan perhatian terhadap banyak dimensi spesifik.
Tahapan bimbingan kelompok dilakukan dengan akronim SIPA yaitu structuring (S), yakni konselor menjelaskan panduan kegiatan ; involvement (I), yakni anggota kelompok aktif berpartisipasi; processing (P), yakni berbagai ide serta awareness (A), yaitu mengkonsolidasikan apa yang telah dipelajari.
Kegiatan bimbingan dan konseling berfungsi mempromosikan pemahaman diri dan orang lain. Program bimbingan di dalam kelas disebut program DUSO-R (Developing understanding of self and other-revised. Teknik dalam bimbingan dan pendidikan-psikologis kelompok harus bervariasi dengan memperhatikan penggunaan fantasi, berfokus pada perilaku yang harus dikembangakan/ ditingkatkan, menciptakan pandangan positif tentang diri serta bekerja dengan visualisasi.
Konseling kelompok dalam adegan sekolah secara esensial berfugsi menumbuhkan kesehatan mental. Konseling kelompok membantu anak belajar tentang diri dan orang lain dalam interaksi yang terstruktur. Tiga pendekatan dalam konseling kelompok dapat dibedakan, yaitu: Pendekatan kelompok pusat krisis, yaitu kelompok dengan konflik diantara anggota kelompok; dalam hal ini individu ditantang untuk memahami situasi dan berpikir tentang solusi yang mungkin dilakukan.
Pendekatan yang kedua adalah pendekatan kelompok pusat permasalahan, yaitu sebuah kelompok kecil yang memusatkan perhatian pada satu permasalahan. Teknik bermain peran digunakan pada tahapan ini. Kelompok yang sama adalah kelompok persahabatan dengan focus perilaku menyimpang, kekurangan keterampilan social dan penampilan persahabatan yang praktis.
Pendekatan yang ketiga adalah kelompok pusat pertumbuhan yang berfokus pada perkembangan social dan pribadi siswa. Kelompok bertujuan untuk mengeksplorasi perasaan, perhatian dan perilaku setiap hari.











E.     Deskripsi Kegiatan

No
Nama Kegiatan
Deskripsi
1
Pendekatan
-    Mendekati dan mengenalkan diri pada anak kelas 4 yang sedang bermain bulu tangkis untuk berkumpul dan membentuk kelompok kecil
-    Mengenalkan diri dan Mengajak bermain bersama kelas 5 yang sedang bermain sepak bola
2
Brain Gym
Ditujukan untuk melatih konsentrasi teman-teman kelas 4&5 sebelum melakukan bimbingan konseling kelompok. Dalam kegiatan ini teman-teman kelas 4&5 membuat lingkaran-lingkaran kecil, menyanyikan lagu sambil bertepuk tangan  dan menjentikan jari serta menyebutkan nama sendiri dan nama orang yang berdiri di sebelahnya.
3
Permainan Pembuka
“Ganjil-genap,Hitam-putih”
(SKLB Terlampir)
-    peserta diminta membuat lingkaran besar, dan pendamping berdiri di tengah sambil memberikan instruksi permainan
-    peserta diminta menghitung posisinya dan menyebutkan apakah dirinya termasuk dalam hitungan ganjil atau genap
-    pada saat sedang bermain, peserta sangat antusias, mereka saling menguatkan pegangan supaya temannya yang condong ke depan atau ke belakang supaya tidak jatuh. Walaupun akhirnya ada saja peserta yang  jatuh
-    ketika refleksi dan evaluasi, peserta mengerti bahwa kita tidak boleh membiarkan teman kita jatuh, maka dari itu harus saling mendukung dan membantu pada teman
4
Permainan Pembuka
“Buka Kadonya”
(SKLB terlampir)
-    Peserta di bagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelas 4 dan 5 yang harus bersaing dalam membuka bungkus kado dimana setiap orang dalam kelompok itu hanya bisa menggunakan satu jari saja.
-    Pendamping memberi instruksi untuk menunjuk ketua kelompok yang bertugas memimpin dan memberikan instruksi pada anggota kelompoknya
-    Pendamping memberi aturan permainan dan meminta tiap kelompok untuk mengatur strategi supaya kelompoknya dapat memenangkan pertandingan itu.
-    Saat bermain, suasana sangat ramai dan berisik, karena dari 2 kelompok tersebut saling berteriak satu sama lain mengatur teman-temannya.
-    Pada saat permainan  kelas 5 mengalami kalah, karena dari 2 bungkus kado yang harus dibuka, mereka membagi 9 anggotanya menjadi 2 kelompok kecil, jadi untuk membuka satu bungkus kado saja lama karena tenaga hanya sedikit.
-    Kelas 4 berstrategi unuk membuka 1 bungkus kado satu persatu bersama-sama jadi waktu pembukaan bungkus kado pun menjadi cepat.
-    Tapi dari segi kerapihan membuka bungkus kado poin kelas 5 lebih besar.
-    Kelas 5 terpaksa kekurangan 2 anggotanya karena melanggar peraturan yaitu mengganti jari dan menggunakan jari lebih dari 1. Orang yang keluar tersebut diberi hukuman, yaitu menyanyikan lagu sambil bergaya. Semuanya tertawa ketika melihat hukuman itu berlangsung.
-    Pada permaianan ini terlihat sebagian kecil karakter dari anak-anak tersebut, ada yang hanya mengatur tapi tidak bergerak, ada yang tidak peduli terhadap jari temannya yang sakit, ada yang serius mengikuti permainan, dsb
6
Permainan Inti
“BEBAS!!!”
(SKLB terlampir)
-    Peserta diberi instruksi permainan, BEBAS TALI, yaitu memindahkan tali dari satu teman ke teman yang lain, tapi tanpa melepaskan pegangan tangan mereka
-    Permainan sangat seru, namun kelas 5 lagi-lagi mengalami kekalahan, dengan alasan teman-mereka tinggi-tinggi. Namun disini dipahamkan bahwa bukan karena mereka fisiknya seperti itu, tapi karena kurang siap dan kurang matang strateginya, dan mereka mau mengerti dan paham bahwa kekalahan mereka adalah karena ketua terpilih tidak tegas, sehingga banyak instruksi yang bermacam-macam dan membuat bingung.
-    Setelah Bebas Tali, peserta bermain BEBAS TANGAN. Pendmaping menistruksikan untuk berpegangan tangan secara bersilang, dan mereka harus dapat membalikan badan tanpa melepas pegangan tangan tersebut.
-    Pada permainan ini kahirnya kelas 5 berhasil main dengan baik. Dan saat refleksi akhirnya kelas 5 sadar bahwa bekerja sama, mendengarkan ketua, dan terbuka pada teman lainnya membuat mereka menang.
7
Permainan Penutup
“Kapal Karam”
(SKLB terlampir)

-    Saat permainan kapal karam, anak diminta berkelompok kecil (terdiri dari 3 orang), yang masing-masing kelompok harus berdiri di atas selembar kertas koran
-    Anak diminta menggunakan imajinasinya yang dipandu oleh pembimbing
-    Mereka berdiri di atas kapal dan menuju australia, namun karena bertemu gurita raksasa, kapal terbentur, dan pecah, kapal semakin kecil. Saat mendengar kata “kapal semakin kecil” kelompok itu harus turun dan melipat bagian koran seperti yang sudah diinstruksikan pembimbing, dan begitu seterusnya sampai kapal mereka menjadi snagat kecil. Ada beberapa kelompok yang satu anggotanya tidak daapt berdiri  lagi dikapal, ada yang saling gendong dan berjinjit, ada juga yang menjadikan kaki teman mereka sebagai pijakan untuk berdiri.
-    Pada saat refleksi, sebagian besar mengira permainan ini hanya team work saja, mungkin karena kelelahan setelah bermain. Padahal untuk membantu teman, selama kita masih bisa dan mampu, maka kita harus menolongnya dengan kekuatan yang kita punya.
8
Pengisian Jurnal Kegiatan
Setelah kegiatan selesai, anak-anak diminta untuk mengisi jurnal kegiatan mengenai aktifivitas mereka. Setelah itu pembimbing menutup kegiatan dan mengucap kan terima kasih.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Sebagai makhluk social, anak berbakat mengalami pertunbuhan dan perkembangan yang sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat, pemikiran, sikap dan aktivitas. Ditinjau dari segi budaya anak berbakat mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang dipengaruhi tingkat kebudayaan yang mereka dalam  memperoleh pengalaman.
Untuk mengenali karakteristik anak berbakat dapat dilihat dari beberapa segi, diantaranya :
a.       Potensi
b.      Cara mengahadapi masalah
c.       Prestasi

B.     Saran
Ada beberapa saran yang perlu diperhatikan oleh mahasiswa/i, antara lain : Mahasiswa/i perlu mengadakan evaluasi sekaligus banyak bertanya kepada dosen mata pelajaran.
Pertemuan mahasiswa/i dan dosen mata pelajaran Bimbingan Konseling yang rutin untuk membahas materi atau model pembelajaran yang inovatif. Mahasiswa/i aktif, inovatif mengikuti perkembangan zaman, sehingga perlu banyak membaca dan bertanya sebagai bekal  tambahan  wawasan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

"Kesalahan adalah pengalaman hidup, belajarlah darinya. Jangan mencoba tuk menjadi sempurna. Cobalah belajar bijaksana bagi sesama"